Tentang Rasa
Juli 31, 2019
Reading
Add Comment
Malam itu saya habiskan waktu untuk berpikir, melaukan evaluasi tentang rasa dan asmara. Melihat beberapa tahun kebelakang, mencari jawaban apa yang menjadikan saya menjadi 'saya'. Saya mendapatkan kesimpulan, mempelajari dari pola-pola sebelumnya, bahwa ketika saya mencintai seseorang, saya memberikan sepenuhnya, saya memberikan hal terbaik yang saya punya, yaitu kesetiaan.
Makna kesetiaan mempunyai makna yang positif di kebanyakan orang, namun akhir-akhir ini saya mengkaji kembali makna dari kesetiaan itu, saya mulai memikirkan bahwa apakah ini sesuatu yang patut saya syukuri atau sebagai sesuatu yang harus saya takuti.
Terlalu naif rasanya jika saya mengkategorikan diri saya sebagai seseorang yang setia, namun itu yang teman-teman saya katakan dan itu sendiri yang saya rasakan, ketika saya mencintai seseorang, saya tidak mempunyai intensi untuk mencintai orang lain, as simple as that, dan saya bisa mencintai seseorang berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya tanpa pernah merasa bosan mendengar segala tentang kegiatanya setiap hari.
Lalu, jika memang kesetiaan itu adalah sesuatu yang positif, apa yang kesetiaan sudah berikan kepada saya? saya berpikir, melihat kejadian-kejadian di masa lampau, saya menemukan jawabanya, it was nothing but pains. Melihat orang-orang yang saya cintai perlahan pergi, dan meninggalkan bekas luka di hati.
Saya membuka diri dan bertemu teman-teman yang sudah bertahun-tahun tidak saya jumpai, dan kita membicarakan hal-hal yang sebagaimana biasanya anak muda bicarakan, kita membicarakan tentang asmara, mereka mulai membicarakan kisah asmara mereka, bagaimana mereka menjadi sebuah pangeran di negeri dongeng mereka, dan semua terlihat indah, sampai mereka bercerita dengan bangga, bahwa mereka selalu mempermainkan hati orang-orang, mereka bercerita seolah itu merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan, saya terdiam.
Pembicaraan absurd di malam itu membuka pikiran saya, bahwa di luar sana banyak orang-orang yang memang dengan sengaja ingin melukai hati seseorang, pada malam itu seakan Tuhan sudah mengutus mereka untuk menyadarkan sesuatu dalam hidup saya. Saya sadar bahwa kesetiaan yang saya miliki itu merupakan sesuatu yang patut saya syukuri dalam hidup saya, saya bersyukur akan hal itu.
And I wouldn't trade my soul for the prettiest face in the worldPertanyaan berikutnya, lalu bagaimana dengan orang yang saya cintai pada saat ini?
Saya merasakan hal yang sangat berbeda dengan orang-orang yang saya pernah cintai dahulu, dengan dia saya untuk pertama kali menemukan kedewasaan yang sebelumnya mungkin tidak pernah saya miliki. Pada awalnya saya selalu merasa bahwa orang yang saya cintai saat ini benar-benar sempurna, namun saya sadar, layaknya orang lainya, dia hanya seorang manusia biasa, dan tidak ada manusia yang sempurna, dia mempunyai kekurangan, dia kadang membuat saya kecewa, membuat saya sedih dan itulah cinta. Cinta tidak hanya tentang tersenyum, bahagia dan tertawa, tetapi kesedihan datang dalam satu paket yang sama berlabel cinta.
Dengan keasadaran itu, saya sadar untuk mencintai seseorang itu tidak bisa hanya melihat dari segala kelebihan yang dia miliki, namun saya juga harus mencintai segala kekurangan yang dia miliki.
Dan jujur, saya mencintai segala kelebihanmu sebagaimana saya mencintai segala kekuranganmu, dan saya tidak akan pernah merubah segala hal yang kamu punya saat ini, karena saya mencintaimu apa adanya. Kamu tidak perlu khawatir bahwa kemana saya akan pergi, karena saya akan selalu menemani dan menunggumu, mendengerkan segala aktivitas belajarmu, begadang di malam hari, memilih baju mana yang akan kamu pakai di wisudamu, mendengarkan keluhan ditempat kerjamu atau merayakan promosi ditempat kerjamu.
Dan pasti dalam proses itu semua ada kalanya saya bersedih, dan memutar playlist yang sudah saya siapkan, namun bukan berarti saya akan berhenti untuk menunggumu, bukan berarti hal tersebut akan mengurangi cinta saya kepadamu, kamu tidak perlu khawatir, karena saya akan selalu ada untukmu.
- 1 Agustus, 2019. Di teras rumahku
0 komentar:
Posting Komentar